WELCOME TO MY WORLD

every dark light is followed by a light morning
Tampilkan postingan dengan label kata-kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata-kata. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Oktober 2012

Lara Awan Mendung

Kau hancurkan aku dengan bibir itu
Kau tampar aku dengan kata-kata
Tidak bisakah kau sedikit diam dan dengarkan
Aku yang giat memperbaiki kehancuran yang kaubuat
Aku yang berusaha menghapus nodamu
Tidak bisakah kau diam dan tidak menertawakanku
Aku di sini berjuang melawan hujan
Menantang kelam berharap pada terang
Tidak cukupkah kau menenggelamkan senyumku
Sekarang kau tenggelamkan kisah kasih
Tidak cukupkah kau menelanjangi hati yang keruh
Sekarang kau telanjangi kisah kasih
Kisah yang tidak menunggu aku
Dan aku di sini masih menunggu
Menunggu, melihatmu…lebur

Jumat, 12 Oktober 2012

Pernahkah Kau


Pernahkah kau merasa…
Berada dekat langit dan lupa bumi.
Pernahkah kau merasa..
Mengawang tanpa peduli realita.
Pernahkah kau merasa..
Dijatuhkan ke bumi dari singgasana.
Pernahkah kau merasa..
Hancur dan damai bersama.
Pernahkah kau merasa..
Pernahkah?

Rabu, 19 September 2012

Cinta yang Tidak Salah

1
Hai kau yang senang tersenyum
Kami pikir karena apa…
Hai kau yang begitu ceria
Kami pikir karena apa…
Kau membuat kami terkejut akan laku yang takbiasa
Sempat gentar kami
Sampai nyata akhir terduga
Gelora yang kau bangun jangka panjang seketika hancur
Hancur karena “rumitnya keadaan”
Kami tahu kaumampu. Oh, tidak.
Sesungguhnya kami gentar walau kelihatan kausanggup
Aku tahu bukan kau yang ingin demikian, bukan juga dia, dan dia
Hanya saja…
Semua jadi serba salah jika hati yang bermain

Dari kami yang berada di luar zona soalmu, namun masih dalam satu zona perhandaian


2
Kau yang merasa di atas angin
Atau… entah.
Mungkin kau memang di atas angin.
Semoga bisa kau bedakan air dengan api
Atau mungkin kau terlalu lama bersama angin
Hingga air dan api terlihat sama
Kami hanya ingin kaumengerti
Jangan coba membawa kegoyahanmu di atas kepastian yang diharapkan
Hai kau yang sedang mencari dudukan bagi emosi nomadenmu
Walau takada niat membuncahkan…
Setitik ria di dalammu cukup melebur kisah kita bersama
Satu hal…
Bukan dibesar-besarkan,
Ini hanya karena kau, dia, dan dia

Dari kami yang berada di luar zona soalmu, namun masih dalam satu zona perhandaian


3
Terlihat baik-baik saja
Apa karena kuat topengmu
Banyak yang taksadar memang
Tapi kesudahan kami tahu dan terperangah
Sampai hati kau memutarbalikan hal
Hanya oleh karena kau… ya, kau…
Tapi lagi…
Kami tahu itu.
Memang takada yang patut dipojokki, bahkan kau
Tapi lagi…
Mungkin risih ini yang takdapat dibendung melihat kau melakukan itu
Kau yang menaruh harap “lagi” dan membuang sesuatu
Membuang pertahanan palsu yang kautanam
Semoga kau mengerti bahwa ini bukan permainan

Dari kami, handai dua dara yang berada di kanan kirimu

ADK

Rabu, 02 Februari 2011

PELANGI SETELAH HUJAN

Tanpa awal kita memulai

Tanpa akhir kita mengakhiri

Tanganku gemetar dan tubuhku terkulai lemas

Aku berharap ini mimpi tapi aku bukan putri tidur

Langit makin pudar cahayanya

Petir menyambar merah marah

Setetes demi tetes air berjatuhan

Rintiknya seakan tahu laraku

Takpernah kumerasa seperti ini sebelumnya

Dalam hitungan yang sama aku menangis dalam hati

Tidak berhenti langit menurunkan airnya

Menimbulkan basah yang lirih di uluh hati

Tidak berhenti pula amuknya yang jatuh beruraian

Derasnya bak mewakilkan rintihanku saat ini

Tapi takada guna menangis berlarut-larut

Hujan pun pasti lelah dipercikkan terus ke bumi

Menanti setitik mentari untuk menghapus kelam

Hujan pun berhenti sembari menyusul pelangi elok

Tekadku kokoh menyambut fajar hari depan

Aku tersenyum dalam hidupku pada kisah yang baru

KISAH PENDEK

Awalnya kutahu bahwa aku dan dia takdapat bersama

Tapi kupaksakan menempuh jalan yang salah

Karena dia membuat aku terpaku atas sihir lihainya

Hingga kubiarkan pesonanya merasuki alun-alun hati

Kekosonganku mulai terisi

Jiwaku kembali beraksi ajaib

Senyum terpancar bagai kilatan menawan

Langkah berjingkrak bak pacuan kuda

Tetapi benar taklama bahagia melekat

Hingga deru merayu dan damai berlalu

Waktu memaksa mengingat kembali langkah awal

Ku takdapat mejajaki ini lebih lagi

Dagingku beride ego sementara

Tapi itu hanya akan menghancurkan dirinya

Pada akhirnya berserulah keputusannya

Membuat jantung berhenti berdetak

Kantungku sudah terlalu penuh

Isinya merengek minta bebas

Kulepaskan sedikit malah membawa teman

Hingga takdapat tertahan dan meluap keluar

Lalu berakhirlah penyambung suka

Mengecap habis kisah pendekku ini

Jumat, 21 Januari 2011

TANYA

Malunya aku ketika hanyut bersamamu dalam harapan

Melayangnya hati ini ketika mendengarmu penuh puji

Taukah kau tentang sebuah ungkapan

Percayakah kau pada sebuah janji

LALU

Bulan memberi kemilaunya

Hingga terpancar cahayanya

Pikiranku penuh dirinya

Hingga sulit melupakannya

Entah berapa lama harus menunggu

Entah berapa lama harus menanti

Menunggu sampai berminggu-minggu

Takbicara sang belahan hati

Mataku perih melihatnya

Dadaku sesak menahannya

Agar semua terungkap

Kata pun harus terucap

Tapi dia telah menghilang

Takada lagi yang terngiang

Bayangnya semakin jauh

Taklagi terasa teduh

DIA

Hati yang belum terbuka sebelumnya

Jiwa yang tertutup rapat tadinya

Dia buka perlahan

Dia isi perlahan

Dia menarik aku yang bimbang

Mendekapku dalam hangat

Dia membawa aku terbang

Melingdungiku dari yang menyengat